SIAPA
BATHARA LOWANO ?
Bathara, sebuah sebutan gelar yang disematkan oleh
masyarakat Jawa Kuno kepada seseorang yang dianggap linuwih, mumpuni dan
ngayomi sekaligus berkuasa, sebutan ini kadang melekat begitu saja tanpa ada
sebuah ritual-ritual ceremony tertentu seperti penganugerahan gelar pada
acara-acara kenegaraan atau pemberian gelar kekancingan dari sebuah keraton.
Namun gelar ini akan hidup dan terus dikenang oleh masyarakat yang meyakini
akan kemampuan seseorang yang pernah hidup di lingkungannya dan tidak lepas
dari pergantian jaman ke jaman.
Oleh masyarakat Desa Loano dan sekitarnya, ada satu nama
yang senantiasa disebut dalam segala ritual baik itu ritual kebudayaan semisal
pagelaran “Jaran Kepang” atau ritual Tahlil – nama ini selalu disebut oleh
Pemerintah Desa saat melakukan Tahlil bersama. Nama itu adalah Pangeran Haryo
Bangah atau Bathara Lowano.
Masyarakat Desa Loano mempercayai bahwa ia adalah sang
bahurekso wilayah Loano dan sekitarnya, walaupun secara historis tidak banyak
yang mengetahui apa dan siapa Bathara
Lowano. Namun masyarakat Loano begitu menghormatinya sama seperti masyarakat
Bagelen menghormat pada Nyai Ageng Bagelen. Bukan tidak mungkin tokoh satu ini
adalah cikal bakal wong Loano sekarang, beranak pinak dan menurunkan para
tokoh,pemimpin dan kawula Loano.
Menurut cerita dari mulut ke mulut yang beredar di
masyarakat Loano, Haryo Bangah adalah seorang bangsawan dari Pajajaran tanah Sunda
yang melakukan ritual pengembaraan mnecari kesejatian hidup menurut anggapan
kepercayaan pada masa itu. Ada sebagian yang menyebut bahwa Haryo Bangah adalah
bangsawan pelarian dari Sunda, ia lari meninggalkan keraton untuk menyelematkan
diri –mungkin terjadi kekacauan politik di dalam kerajaannya waktu itu.
Kemudian ada yang menuturkan bahwa ia adalah putra Raja Pajajaran yang
“meninggalkan kerajaan” karena dipaksa untuk menduduki Tahta kerajaan dan ada
cerita lain lagi yang mengatakan bahwa ia adalah anak Bangsawan Sunda yang
menikah dengan seorang putri dari Majapahit dan ketika remaja Si Haryo Bangah
ini berpamitan meninggalkan Sunda untuk mencari keluarga ibunya di Majapahit. Sesampai
di suatu tempat ia menghentikan perjalanannya kemudian menetap di tempat itu
sembari mengucap kekecewaan tidak menuntaskan perjalanan.
Dari uraian diatas didapati beberapa pernyataan kunci yaitu
: bahwa Haryo Bangah :
1. Adalah bangsawan Pajajaran yang
mengembara mencari kesejatian hidup
2. Lari dari hiruk pikuk politik
3. Pergi karena dipaksa menduduki
tahta
4. Pergi ke majapahit untuk
menemui keluarga ibunya dan memutuskan bertempat tinggal di suatu tempat sambil
memendam kekecewaan-gela (jw)
Dari empat pernyataan kunci
tersebut mungkin dapat ditarik sebuah kesimpulan awal bahwa Haryo Bangah adalah
bangsawan Pajajaran yang lari dari hiruk pikuk politik ( tahta ) dan melakukan
perjalanan ke Majapahit.
Jika merunut sejarah, ada satu babak sejarah hubungan
antara Pajajaran dan Majapahit yang begitu legendaries dan bahkan hingga kini
oleh masyarakat Sunda terasa masih membekas, yaitu kisah perjodohan Dyah
Pitaloka putri Prabu Sri Baduga Maharaja dengan Prabu Hayam Wuruk Raja
Majapahit.
Dicatat dalam sejarah jika perjodohan tersebut tidak pernah
terwujud, bahkan berakhir tragis. Kisah ini bermula dari birahi politik dan
hasrat kekuasaan sang Patih Gajah Mada untuk menguasai seluruh Nusantara lewat
Sumpah Palapanya, Gajah Mada telah melakukan sebuah tipu muslihat untuk
menguasai kerajaan Pajajaran yang pada waktu itu adalah Negara merdeka di ujung
Barat Pulau Jawa, lewat taktik perjodohannya Gajah Mada mampu mendatangkan
Rombongan Bangsawan Pajajaran yang terdiri dari Sri Baduga Maharaja, putri Diah
Pitaloka dan keluarga beserta seluruh Pasukannya ke Majapahit. Namun di sebuah
Lapangan di Desa Bubat, Gajah Mada menginginkan jika sang Putri diserahkan
kepada Prabu Hayam Wuruk bukan sebagai mempelai wanita namun sebagai
persembahan serta pernyataan takluk kepada kekuasaan kemaharajaan Majapahit
atas Pulau Jawa dan Nusantaraoleh Pajajaran. Tetapi permintaan Gajah Mada ini
ditolak mentah-mentah oleh Raja Pajajaran karena dari persetujuan awal pernikahan
kerajaan ini adalah hubungan perkawinan untuk persaudaraan bukan hubungan
Negara taklukan. Singkat cerita perselisihan itu meruncing dan terjadilah
peperangan antara Tentara Majapahit yang tentunya lebih besar daripada Pasukan
Pajajaran. Dalam pertempuran di Lapangan Bubat ini Pasukan Pajajaran mengalami
kekalahan, sang prabu pun menemui ajal, di penghujung kisah Putri Dyah Pitaloka
mengetahui bahwa pasukan, ayah dan keluarganya berguguran akhirnya memutuskan
diri untuk mengakhiri hidupnya, secara tragis sang putri menikam dirinya dengan
keris ayahnya hingga menemui ajal.
Lalu korelasi apa yang akan didapat dari kisah Perang Bubat
dan perjalanan hidup Haryo Bangah ? Jika menilik cerita diatas ada hubungan
antara kisah perjalanan Haryo Bangah, ini berangkat dari 4 pernyataan kunci
mengenai cerita dari mulut ke mulut yang berkembang di masyarakat Desa Loano.
Asumsi sejarah yang terbentuk adalah :
“Haryo Bangah memang betul
Bangsawan Sunda keturunan Majapahit yang ikut serta dalam rombongan Sri Baduga
Maharaja menghantarkan calon mempelai perempuan yakni Putri Dyah Pitaloka yang
akan dikawinkan dengan Prabu Hayam Wuruk, Ia ikut ke Majapahit dengan misi
selain mengawal sang Prabu juga akan menemui keluarga ibunya yang orang
Majapahit, namun sebelum ia bertemu dengan keluarganya, justru kemalangan yang
mereka terima, rombongan Pajajaran malahan terlibat perselisihan ( hiruk pikuk
politik ) dan meruncing menjadi suatu peperangan. Karena kekalahan di pihak
Pajajaran, kemungkinan ada sisa pasukan/rombongan Pajajaran dan itu salah
satunya Haryo Bangah melarikan diri dari pertempuran hendak kembali ke
Pajajaran karena dengan gugurnya Sri Baduga Maharaja maka otomatis Tahta
Pajajaran kosong, akan tetapi kembalinya Haryo Bangah ke Sunda bukan berarti
akan menduduki Tahta Pajajaran, namun secara garis besar perasaan kecewa yang
dialami oleh Haryo Bangah selama mendapatkan pengalaman dalam perjalanannya ke
Majapahit betul-betul membuat dirinya kecewa (gelo-jawa).”
Akhirnya Haryo Bangah dan beberapa pengikut sisa pasukan
Pajajaran memutuskan untuk kembali ke Tanah Sunda, dari Majapahit mereka
melakukan perjalanan ke arah selatan menuju pesisir Pantai Selatan, sesampainya
di pesisir pantai selatan rombongan kecil itu meneruskan langkah kaki ke arah
barat, mereka sengaja melewati jalur pesisir agar mudah dan tidak tersesat
berbeda jika lewat pedalaman yang tentunya waktu itu Tanah Jawa masih banyak
yang berupa hutan belantara. Ketika rombongan itu sampai di sebuah muara sungai
di wilayah tengah dari Pulau Jawa, mereka berpendapat jika tentara Majapahit
tentunya sudah tidak menjangkau mereka maka mereka mulai merubah pikiran untuk
meneruskan perjalanan melalui jalur pedalaman, dan jalan yang mereka pilih
adalah menyusuri muara sungai tadi, terus mereka berjalan dan semakin masuk ke
pedalaman.
Suatu saat ketika mereka beristirahat, Haryo Bangah
memikirkan jika perjalanan yang telah mereka tempuh adalah perjalanan yang
penuh kekecewaan. Ia khawatir jika
perjalanan itu mereka teruskan hingga
sampai ke Pajajaran maka akan semakin membuat hati mereka kecewa bahkan
hancur, mengingat Prabu Sri Baduga Maharaja telah gugur maka bukan tidak
mungkin situasi politik Tanah Sunda telah berubah, Rezim baru pasti telah
muncul atau bahkan mungkin kekacauan hingga krisis politik kerajaan telah
terjadi - (ini memang terjadi, dalam sejarah dituliskan bahwa pasca Tragedi
Bubat situasi Politik Pajajaran menjadi kacau, puncak dari kekacauan itu adalah
berpindahnya pusat kerajaan dari Galuh ke Pakwan). Haryo Bangah mengutarakan
pendapatnya itu kepada seluruh rombongan kecil tadi, merekapun sependapat dan
mengiyakan apa yang Haryo Bangah utarakan.
Rombongan itu kemudian merubah misi, dari perjalanan
kembali ke Pajajaran menjadi pengembaraan.
Pada suatu ketika, dalam
pengembaraan itu mereka sampai di suatu tempat, yakni sebuah tempat di tepi
aliran sungai Bogowonto dimana di tempat
itu terdapat pertemuan dua aliran sungai, dalam kepercayaan Hindu tempat yang
di dekat pertemuan dua sungai seringkali disebut tanah “Kadewan” atau tanah
anugrah Dewata, di tempat seperti itu pasti tanahnya subur. Haryo Bangah mulai
berpikir bahwa pengembaraannya yang tanpa tujuan ini harus diakhiri. Dan ketika
sampai di tempat tadi ia merasa “jatuh cinta” dengan tanah diantara pertemuan
dua sungai tadi. Haryo Bangah memerintahkan salah seorang rombongan untuk
mencari tahu nama tempat ini ke penduduk sekitar, dan jawaban yang mereka
dapatkan adalah bahwa tempat itu oleh penduduk setempat disebut “Tempuran” dan
kini tempat tersebut dikenal sebagai Tempuran Mas. Kata Tempuran Mas sendiri
berasal dari jawaban penduduk yang ditanyai oleh suruhan Haryo Bangah, mungkin
dialognya begini : “papan mriki sinebute nopo ki sanak? “ – “ mriki puniko
aranipun Tempuran…. Mas…”.( tambahan Mas, adalah kata penghormatan dari
seseorang yang baru saja dikenal) namun oleh sang pesuruh ketika melapor pada
Haryo Bangah kata Tempuran… Mas…. Dijadikan satu menjadi Tempuran Mas.
Setelah tahu bahwa tempat
tersebut bernama Tempuran Mas, maka Haryo Bangah semakin yakin bahwa tempat itu
adalah Tanah Kadewan, ia beranggapan kata tempuran bermakna pertemuan dan mas
dari anggapan kata emas sendiri adalah kekayaan/ kejayaan. Haryo Bangah pun
memutuskan untuk mengakhiri pengembaraan dan menetap di wilayah itu.
Haryo Bangah dan pengikutnya
kemudian menyusuri tempat itu dan menemui penduduk setempat, oleh penduduk
tempuran rombongan kecil itu disambut dengan ramah dan diperlakukan bak tamu
agung. Akhirnya pada satu kesempatan mereka bertemu denga tetua desa, Haryo
Bangah mulai menceritakan pengalaman mereka di Majapahit dan tentunya asal
usulnya. Karena cerita yang begitu tragis dan perasaan dukalara serta kecewa
yang teramat dalam maka warga setempat menyebut rombongan Haryo Bangah itu
denga sebutan “Sing Gelo “ atau yang kecewa.
Bagaimanapun Haryo Bangah
adalah bangsawan, tutur kata, perilaku dan tindak tanduknya selalu terjaga,
oleh masyarakat sekitar Haryo Bangah mendapatkan simpati. Respek terhadapnya
juga begitu kentara. Hingga berlalunya waktu akhirnya Haryo Bangah menikah
dengan gadis setempat, dari perkawinannya itu ia mendapatkan seorang Putra yang
dipanggil “ ADEN” julukan sebagai pengingat baginya bahwa ia hanyalah seorang
yang numpang di tanah Tempuran, maka dengan anaknya sendiripun ia menganggap si
anak sebagai Tuan dan saat memanggilnya ia sebut dengan “aden” atau Raden (
secara harafiah berarti Tuan) itulah salah satu keluhuran budi Haryo Bangah.
Oleh penduduk Tempuran si Aden dipanggil dengan Anden dan Anden ini kelak
dikenal dalam sejarah Loano sebagai Pangeran Anden Lowano.
Waktupun bergulir, Haryo Bangah
semakin mendapat tempat di hati penduduk Tempuran, karena keluhuran budi,
kepandaian dan kesaktiannya ia semakin dikenal tidak hanya oleh penduduk
Tempuran saja namun meluas hingga desa-desa di sekitar Tempuran. Akhirnya pada
suatu waktu oleh tetua Desa Tempuran dan para tetua desa sekitar tempuran Haryo
Bangah diangkat menjadi pemimpin mereka, sejak itulah Haryo Bangah sing gelo
menjadi orang yang dipercaya untuk memimpin tlatah Tempuran dan sekitarnya.
Lambat laun, sebutan sing gelo
malah menjadi popular di kalangan masyarakat sekitar, dan dengan beriringnya
waktu Haryo Bangah menamai wilayah Tempuran itu dengan sebutan SINGGELOPURO
yang berasal dari kata Sing Gelo artinya yang kecewa dan kata Puro atau istana
– personifikasi dari kemulyaan. Secara filosofis dapat dikatakan bahwa
SINGGELOPURO adalah tempat dimana orang yang mengalami kekecewaan justru
mendapatkan kemuliaan.
Kepemimpinan Haryo Bangah yang
adil dan bijaksana menempatkan dirinya menjadi orang yang memang dimuliakan
oleh penduduk Singgelopuro. Kemajuan Singgelopuro semakin pesat, banyak desa
bergabung menjadi wilayah Singgelopuro yang kemudian berkembang menjadi semacam
Kadipaten, dan sebagai penghormatan atas kepemimpinannya mereka memberi gelar
Haryo Bangah dengan sebutan Adipati Singgelopuro tetapi Haryo Bangah
bagaimanapun mengalir darah Sunda ia merasa gelar itu terlalu tinggi dan justru
lebih senang dipanggil sebagai Buyut Singgelo. Karena sifatnya yang begitu
mengayomi dan memberikan rasa tentram kepada yang dikuasainya di kelak kemudian
hari hingga sekarang Haryo Bangah atau Adipati Singgelopuro alias Buyut
Singgelo disebut Bathara Lowano. ( hal ikhwal Singgelopuro menjadi nama Lowano
akan diterangkan pada tulisan yang lain).
Loano,
Selasa Kliwon 28 Oktober 2014
Pukul 23.20 WIB