Kamis, 30 Oktober 2014



SIAPA BATHARA LOWANO ?
          Bathara, sebuah sebutan gelar yang disematkan oleh masyarakat Jawa Kuno kepada seseorang yang dianggap linuwih, mumpuni dan ngayomi sekaligus berkuasa, sebutan ini kadang melekat begitu saja tanpa ada sebuah ritual-ritual ceremony tertentu seperti penganugerahan gelar pada acara-acara kenegaraan atau pemberian gelar kekancingan dari sebuah keraton. Namun gelar ini akan hidup dan terus dikenang oleh masyarakat yang meyakini akan kemampuan seseorang yang pernah hidup di lingkungannya dan tidak lepas dari pergantian jaman ke jaman.
          Oleh masyarakat Desa Loano dan sekitarnya, ada satu nama yang senantiasa disebut dalam segala ritual baik itu ritual kebudayaan semisal pagelaran “Jaran Kepang” atau ritual Tahlil – nama ini selalu disebut oleh Pemerintah Desa saat melakukan Tahlil bersama. Nama itu adalah Pangeran Haryo Bangah atau Bathara Lowano.
          Masyarakat Desa Loano mempercayai bahwa ia adalah sang bahurekso wilayah Loano dan sekitarnya, walaupun secara historis tidak banyak yang mengetahui apa dan siapa  Bathara Lowano. Namun masyarakat Loano begitu menghormatinya sama seperti masyarakat Bagelen menghormat pada Nyai Ageng Bagelen. Bukan tidak mungkin tokoh satu ini adalah cikal bakal wong Loano sekarang, beranak pinak dan menurunkan para tokoh,pemimpin dan kawula Loano.
          Menurut cerita dari mulut ke mulut yang beredar di masyarakat Loano, Haryo Bangah adalah seorang bangsawan dari Pajajaran tanah Sunda yang melakukan ritual pengembaraan mnecari kesejatian hidup menurut anggapan kepercayaan pada masa itu. Ada sebagian yang menyebut bahwa Haryo Bangah adalah bangsawan pelarian dari Sunda, ia lari meninggalkan keraton untuk menyelematkan diri –mungkin terjadi kekacauan politik di dalam kerajaannya waktu itu. Kemudian ada yang menuturkan bahwa ia adalah putra Raja Pajajaran yang “meninggalkan kerajaan” karena dipaksa untuk menduduki Tahta kerajaan dan ada cerita lain lagi yang mengatakan bahwa ia adalah anak Bangsawan Sunda yang menikah dengan seorang putri dari Majapahit dan ketika remaja Si Haryo Bangah ini berpamitan meninggalkan Sunda untuk mencari keluarga ibunya di Majapahit. Sesampai di suatu tempat ia menghentikan perjalanannya kemudian menetap di tempat itu sembari mengucap kekecewaan tidak menuntaskan perjalanan.
          Dari uraian diatas didapati beberapa pernyataan kunci yaitu : bahwa Haryo Bangah :
1.    Adalah bangsawan Pajajaran yang mengembara mencari kesejatian hidup
2.     Lari dari hiruk pikuk politik
3.    Pergi karena dipaksa menduduki tahta
4.    Pergi ke majapahit untuk menemui keluarga ibunya dan memutuskan bertempat tinggal di suatu tempat sambil memendam kekecewaan-gela (jw)
Dari empat pernyataan kunci tersebut mungkin dapat ditarik sebuah kesimpulan awal bahwa Haryo Bangah adalah bangsawan Pajajaran yang lari dari hiruk pikuk politik ( tahta ) dan melakukan perjalanan ke Majapahit.
          Jika merunut sejarah, ada satu babak sejarah hubungan antara Pajajaran dan Majapahit yang begitu legendaries dan bahkan hingga kini oleh masyarakat Sunda terasa masih membekas, yaitu kisah perjodohan Dyah Pitaloka putri Prabu Sri Baduga Maharaja dengan Prabu Hayam Wuruk Raja Majapahit.
          Dicatat dalam sejarah jika perjodohan tersebut tidak pernah terwujud, bahkan berakhir tragis. Kisah ini bermula dari birahi politik dan hasrat kekuasaan sang Patih Gajah Mada untuk menguasai seluruh Nusantara lewat Sumpah Palapanya, Gajah Mada telah melakukan sebuah tipu muslihat untuk menguasai kerajaan Pajajaran yang pada waktu itu adalah Negara merdeka di ujung Barat Pulau Jawa, lewat taktik perjodohannya Gajah Mada mampu mendatangkan Rombongan Bangsawan Pajajaran yang terdiri dari Sri Baduga Maharaja, putri Diah Pitaloka dan keluarga beserta seluruh Pasukannya ke Majapahit. Namun di sebuah Lapangan di Desa Bubat, Gajah Mada menginginkan jika sang Putri diserahkan kepada Prabu Hayam Wuruk bukan sebagai mempelai wanita namun sebagai persembahan serta pernyataan takluk kepada kekuasaan kemaharajaan Majapahit atas Pulau Jawa dan Nusantaraoleh Pajajaran. Tetapi permintaan Gajah Mada ini ditolak mentah-mentah oleh Raja Pajajaran karena dari persetujuan awal pernikahan kerajaan ini adalah hubungan perkawinan untuk persaudaraan bukan hubungan Negara taklukan. Singkat cerita perselisihan itu meruncing dan terjadilah peperangan antara Tentara Majapahit yang tentunya lebih besar daripada Pasukan Pajajaran. Dalam pertempuran di Lapangan Bubat ini Pasukan Pajajaran mengalami kekalahan, sang prabu pun menemui ajal, di penghujung kisah Putri Dyah Pitaloka mengetahui bahwa pasukan, ayah dan keluarganya berguguran akhirnya memutuskan diri untuk mengakhiri hidupnya, secara tragis sang putri menikam dirinya dengan keris ayahnya hingga menemui ajal.
          Lalu korelasi apa yang akan didapat dari kisah Perang Bubat dan perjalanan hidup Haryo Bangah ? Jika menilik cerita diatas ada hubungan antara kisah perjalanan Haryo Bangah, ini berangkat dari 4 pernyataan kunci mengenai cerita dari mulut ke mulut yang berkembang di masyarakat Desa Loano. Asumsi sejarah yang terbentuk adalah :
“Haryo Bangah memang betul Bangsawan Sunda keturunan Majapahit yang ikut serta dalam rombongan Sri Baduga Maharaja menghantarkan calon mempelai perempuan yakni Putri Dyah Pitaloka yang akan dikawinkan dengan Prabu Hayam Wuruk, Ia ikut ke Majapahit dengan misi selain mengawal sang Prabu juga akan menemui keluarga ibunya yang orang Majapahit, namun sebelum ia bertemu dengan keluarganya, justru kemalangan yang mereka terima, rombongan Pajajaran malahan terlibat perselisihan ( hiruk pikuk politik ) dan meruncing menjadi suatu peperangan. Karena kekalahan di pihak Pajajaran, kemungkinan ada sisa pasukan/rombongan Pajajaran dan itu salah satunya Haryo Bangah melarikan diri dari pertempuran hendak kembali ke Pajajaran karena dengan gugurnya Sri Baduga Maharaja maka otomatis Tahta Pajajaran kosong, akan tetapi kembalinya Haryo Bangah ke Sunda bukan berarti akan menduduki Tahta Pajajaran, namun secara garis besar perasaan kecewa yang dialami oleh Haryo Bangah selama mendapatkan pengalaman dalam perjalanannya ke Majapahit betul-betul membuat dirinya kecewa (gelo-jawa).”
          Akhirnya Haryo Bangah dan beberapa pengikut sisa pasukan Pajajaran memutuskan untuk kembali ke Tanah Sunda, dari Majapahit mereka melakukan perjalanan ke arah selatan menuju pesisir Pantai Selatan, sesampainya di pesisir pantai selatan rombongan kecil itu meneruskan langkah kaki ke arah barat, mereka sengaja melewati jalur pesisir agar mudah dan tidak tersesat berbeda jika lewat pedalaman yang tentunya waktu itu Tanah Jawa masih banyak yang berupa hutan belantara. Ketika rombongan itu sampai di sebuah muara sungai di wilayah tengah dari Pulau Jawa, mereka berpendapat jika tentara Majapahit tentunya sudah tidak menjangkau mereka maka mereka mulai merubah pikiran untuk meneruskan perjalanan melalui jalur pedalaman, dan jalan yang mereka pilih adalah menyusuri muara sungai tadi, terus mereka berjalan dan semakin masuk ke pedalaman.
          Suatu saat ketika mereka beristirahat, Haryo Bangah memikirkan jika perjalanan yang telah mereka tempuh adalah perjalanan yang penuh kekecewaan. Ia khawatir jika  perjalanan itu mereka teruskan hingga  sampai ke Pajajaran maka akan semakin membuat hati mereka kecewa bahkan hancur, mengingat Prabu Sri Baduga Maharaja telah gugur maka bukan tidak mungkin situasi politik Tanah Sunda telah berubah, Rezim baru pasti telah muncul atau bahkan mungkin kekacauan hingga krisis politik kerajaan telah terjadi - (ini memang terjadi, dalam sejarah dituliskan bahwa pasca Tragedi Bubat situasi Politik Pajajaran menjadi kacau, puncak dari kekacauan itu adalah berpindahnya pusat kerajaan dari Galuh ke Pakwan). Haryo Bangah mengutarakan pendapatnya itu kepada seluruh rombongan kecil tadi, merekapun sependapat dan mengiyakan apa yang Haryo Bangah utarakan.
          Rombongan itu kemudian merubah misi, dari perjalanan kembali ke Pajajaran menjadi pengembaraan.
Pada suatu ketika, dalam pengembaraan itu mereka sampai di suatu tempat, yakni sebuah tempat di tepi aliran sungai  Bogowonto dimana di tempat itu terdapat pertemuan dua aliran sungai, dalam kepercayaan Hindu tempat yang di dekat pertemuan dua sungai seringkali disebut tanah “Kadewan” atau tanah anugrah Dewata, di tempat seperti itu pasti tanahnya subur. Haryo Bangah mulai berpikir bahwa pengembaraannya yang tanpa tujuan ini harus diakhiri. Dan ketika sampai di tempat tadi ia merasa “jatuh cinta” dengan tanah diantara pertemuan dua sungai tadi. Haryo Bangah memerintahkan salah seorang rombongan untuk mencari tahu nama tempat ini ke penduduk sekitar, dan jawaban yang mereka dapatkan adalah bahwa tempat itu oleh penduduk setempat disebut “Tempuran” dan kini tempat tersebut dikenal sebagai Tempuran Mas. Kata Tempuran Mas sendiri berasal dari jawaban penduduk yang ditanyai oleh suruhan Haryo Bangah, mungkin dialognya begini : “papan mriki sinebute nopo ki sanak? “ – “ mriki puniko aranipun Tempuran…. Mas…”.( tambahan Mas, adalah kata penghormatan dari seseorang yang baru saja dikenal) namun oleh sang pesuruh ketika melapor pada Haryo Bangah kata Tempuran… Mas…. Dijadikan satu menjadi Tempuran Mas.
Setelah tahu bahwa tempat tersebut bernama Tempuran Mas, maka Haryo Bangah semakin yakin bahwa tempat itu adalah Tanah Kadewan, ia beranggapan kata tempuran bermakna pertemuan dan mas dari anggapan kata emas sendiri adalah kekayaan/ kejayaan. Haryo Bangah pun memutuskan untuk mengakhiri pengembaraan dan menetap di wilayah itu.
Haryo Bangah dan pengikutnya kemudian menyusuri tempat itu dan menemui penduduk setempat, oleh penduduk tempuran rombongan kecil itu disambut dengan ramah dan diperlakukan bak tamu agung. Akhirnya pada satu kesempatan mereka bertemu denga tetua desa, Haryo Bangah mulai menceritakan pengalaman mereka di Majapahit dan tentunya asal usulnya. Karena cerita yang begitu tragis dan perasaan dukalara serta kecewa yang teramat dalam maka warga setempat menyebut rombongan Haryo Bangah itu denga sebutan “Sing Gelo “ atau yang kecewa.
Bagaimanapun Haryo Bangah adalah bangsawan, tutur kata, perilaku dan tindak tanduknya selalu terjaga, oleh masyarakat sekitar Haryo Bangah mendapatkan simpati. Respek terhadapnya juga begitu kentara. Hingga berlalunya waktu akhirnya Haryo Bangah menikah dengan gadis setempat, dari perkawinannya itu ia mendapatkan seorang Putra yang dipanggil “ ADEN” julukan sebagai pengingat baginya bahwa ia hanyalah seorang yang numpang di tanah Tempuran, maka dengan anaknya sendiripun ia menganggap si anak sebagai Tuan dan saat memanggilnya ia sebut dengan “aden” atau Raden ( secara harafiah berarti Tuan) itulah salah satu keluhuran budi Haryo Bangah. Oleh penduduk Tempuran si Aden dipanggil dengan Anden dan Anden ini kelak dikenal dalam sejarah Loano sebagai Pangeran Anden Lowano.
Waktupun bergulir, Haryo Bangah semakin mendapat tempat di hati penduduk Tempuran, karena keluhuran budi, kepandaian dan kesaktiannya ia semakin dikenal tidak hanya oleh penduduk Tempuran saja namun meluas hingga desa-desa di sekitar Tempuran. Akhirnya pada suatu waktu oleh tetua Desa Tempuran dan para tetua desa sekitar tempuran Haryo Bangah diangkat menjadi pemimpin mereka, sejak itulah Haryo Bangah sing gelo menjadi orang yang dipercaya untuk memimpin tlatah Tempuran dan sekitarnya.
Lambat laun, sebutan sing gelo malah menjadi popular di kalangan masyarakat sekitar, dan dengan beriringnya waktu Haryo Bangah menamai wilayah Tempuran itu dengan sebutan SINGGELOPURO yang berasal dari kata Sing Gelo artinya yang kecewa dan kata Puro atau istana – personifikasi dari kemulyaan. Secara filosofis dapat dikatakan bahwa SINGGELOPURO adalah tempat dimana orang yang mengalami kekecewaan justru mendapatkan kemuliaan.
Kepemimpinan Haryo Bangah yang adil dan bijaksana menempatkan dirinya menjadi orang yang memang dimuliakan oleh penduduk Singgelopuro. Kemajuan Singgelopuro semakin pesat, banyak desa bergabung menjadi wilayah Singgelopuro yang kemudian berkembang menjadi semacam Kadipaten, dan sebagai penghormatan atas kepemimpinannya mereka memberi gelar Haryo Bangah dengan sebutan Adipati Singgelopuro tetapi Haryo Bangah bagaimanapun mengalir darah Sunda ia merasa gelar itu terlalu tinggi dan justru lebih senang dipanggil sebagai Buyut Singgelo. Karena sifatnya yang begitu mengayomi dan memberikan rasa tentram kepada yang dikuasainya di kelak kemudian hari hingga sekarang Haryo Bangah atau Adipati Singgelopuro alias Buyut Singgelo disebut Bathara Lowano. ( hal ikhwal Singgelopuro menjadi nama Lowano akan diterangkan pada tulisan yang lain).
                                         Loano, Selasa Kliwon 28 Oktober 2014
                                                    Pukul 23.20 WIB




SELAYANG PANDANG SEJARAH LOWANO
SEBUAH KISAH YANG BERKEMBANG DARI MULUT KE MULUT

          Sejarah adalah seluruh kejadian yang pernah terjadi, banyak orang menganggap bahwa sejarah adalah hal yang biasa, sepele dan merupakan peristiwa di masa lalu yang kadang hanya dianggap sebagai ingatan atau memori peristiwa (pengalaman). Namun anggapan akan menjadi lain ketika peristiwa itu berkaitan dengan seseorang yang “linuwih” atau merujuk pada suatu tempat yang mempunyai makna tertentu bagi sebagian orang, maka orang akan secara sukarela mencari cerita bahkan memaksakan untuk membuat cerita yang berujung pada sebuah akronim dari history menjadi his story.
          Tulisan ini dibuat tidak sekedar untuk membuat cerita saja, namun lebih dari itu sebagai pengalian sebuah jatidiri dan kebanggaan sekumpulan masyarakat yang hidup, bertempat tinggal dan melakukan kegiatan sehari-hari di sebuah tempat yang bernama Desa Loano. Mungkin telah beratus- ratus tulisan dan berpuluh-puluh sumber telah digali untuk menceritakan kembali kesejarahan sebuah tempat yang dulunya bernama Singgelopuro, namun kadangkala bnayak ditemukan berbagai kejanggalan-kejanggalan dalam isi cerita itu.
Penulis pernah membaca blog dari internet - yang tentunya tidak usah disebutkan adminnya. Dalam tulisannya itu disebutkan bahwa penguasa Loano tempo dulu- Haryo Bangah adalah anak dari Brawijaya –Raja Majapahit terakhir, kemudian ada lagi yang menuliskan bahwa Retno Marlangen ( dalam cerita Loano disebut-sebut sebagai istri Pangeran Anden Loano anak Haryo Bangah) adalah anak perempuan dari Brawijaya, tapi kedua cerita itu kembali bertabrakan ketika ada cerita lain yang mengatakan kalau Haryo Bangah dan Retno Marlangen adalah kakak beradik. Lucu juga ketika ketiga cerita itu disinkronkan dengan cerita dari mulut ke mulut yang berkembang di Loano. Mengapa ?
Cerita Pertama : Haryo Bangah anak Brawijaya, sepertinya ini tidak mungkin karena Brawijaya yang disebut sebagai Raja terakhir Majapahit adalah Raja dari sebuah kerajaan di bekas Majapahit artinya para sejarawan meyakini bahwa Majapahit sebagai Negara besar telah runtuh pada Tahun 1478 Masehi, sementara akhir dari masa pemerintahan Brawijaya adalah tahun 1527 Masehi, banyak sejarawan yang meneyebut bahwa Brawijaya terkhir ini sebenarnya adalah Raja dari Daha ( Kediri ) yang melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit pasca perang Paregreg walaupun di banyak cerita dahulunya Penguasa Daha (Bhre Daha) adalah adik dari Ratu Tribuwana Tunggadewi ibu Hayam Wuruk bahkan Hayam Wuruk-pun tercatat dalam sejarah juga menantu  Bhre Daha dari perkawinannya dengan Paduka Sori anak perempuan Bhre Daha ( Sejarah Nasional Indonesia Jilid II Terbitan Tahun 1976). Lagipula jika Haryo Bangah adalah anak Brawijaya, dirasa juga tidak mungkin karena Brawijaya Terakhir mulai surut dari panggung sejarah sejak tahun 1527 atau awal kebangkitan Islam di Demak, sementara dari cerita penyebaran Islam dikenal nama Ki Tjokrodjoyo atau  Sunan Geseng murid Sunan Kalijogo, yang dalam sejarah ia melakukan penyebaran Agama Islam di wilayah Kedu, Bagelen tentunya termasuk Loano, dan di Loano ini Sunan Geseng meninggalkan sebuah monument yang hingga kini masih kokoh berdiri yaitu Masjid Jami’ AL IMAN Loano. Jika dipaksakan maka yang terjadi adalah Haryo Bangah sejaman dengan Sunan Geseng, padahal dari cerita yang berkembang dari mulut ke mulut Haryo Bangah adalah pemeluk Hindu dan tidak mungkin masuk Islam karena diyakini oleh sebagian masyarakat Loano Haryo Bangah ( Batara Lowanu ) tidak meninggal namun moksa, sebuah proses akhir hidup tertinggi versi Agama Hindu dengan menghilangnya jiwa serta raga secara bersamaan.
Cerita kedua : Retno Marlengen adalah anak Brawijaya terakhir, inipun juga kacau karena dari kesimpulan cerita yang pertama bahwa Haryo Bangah adalah Hindu, tidak sejaman dengan Sunan Geseng, rentang tahun hidup Haryo Bangah ratusan tahun dengan perkembangan Islam, maka mana mungkin Retno Marlengen yang hidup di awal perkembangan Islam diambil menantu oleh Haryo Bangah.
Cerita Ketiga : Haryo Bangah dan Retno Marlengen adalah kakak beradik, inipun juga tidak mungkin karena dalam cerita Retno Marlengen adalah istri dari anak Haryo Bangah, jadi sebuah ketidakmungkinan ketika adik sendiri diambil menantu.
          Tulisan ini bukan berarti akan mengklaim sebagai cerita yang terbenar, namun sekedar pendokumentasian dari sebuah cerita dari mulut ke mulut yang berkembang di masyarakat Loano namun penulis hanya mencoba untuk menyinkronkan / menyesuaikan dengan fakta sejarah, minimal ini adalah sebuah referensi baru untuk menguak sejarah Loano Tua  yang sebenarnya walaupun di lapangan dapat dikatakan sulit karena bukti kesejarahan dari Loano juga sangat minim, yang dapat digali hanyalah sebuah cerita /mitos yang berkembang di masyarakat yang kadang telah dibumbui dengan cerita-cerita yang dibuat untuk melegitimasi kalangan-kalngan tertentu. Tulisan inipun juga mempunyai banyak kelemahan-kelemahan karena rentetan peristiwa yang dituliskan berdasar asumsi-asumsi saja. Tapi bagaimanapun kita juga harus menyadari karena kisah-kisah yang telah dituturkan oleh para pendahulu kita dulu mungkin juga bagian dari asumsi mereka mengingat rentang kejadian asal muasal dari Loano sendiri telah berumur ratusan tahun.
          Kompilasi ini disusun berpijak dari cerita tentang Loano Tua ( era Haryo Bangah ) kemudian Loano Muda ( era Dinasti Gagak berkuasa ) kemudian Loano Riwayatmu ( era pra kemerdekaan ) dan Loano Kontemporer ( era Loano pasca kemerdekaan hingga kini ). Harapannya agar seluruh masyarakat Loano dapat mengetahuinya, mencoba merasakan dan meresapinya agar timbul sebuah kebanggaan menjadi “wong Loano”
                                                     Loano Purworejo,          Tahun 2014
                                                                            Penulis,

                                                                   ERWAN WILODILOGO