MENGAPA DISEBUT JOGOTAMU ?
Dari 12 (Duabelas) dusun di wilayah Desa Loano, salah satunya ada yang bernama Dusun Jogotamu, letaknya di ujung barat Desa Loano, berbatasan langsung dengan Desa Jetis-masih kecamatan Loano.
Banyak versi yang mengisahkan asal kata sebutan jogotamu untuk Dusun Jogotamu. Akan tetapi penulis hanya akan membicarakan satu versi saja yang dimungkinkan ini dapat dimaknai sebagai sebuah monumen kesejarahan Desa Loano. Di tulisan-tulisan yang terdahulu penulis selalu menarik alur cerita dari sejarah Perang Djawa, ini bukan tanpa alasan sebab Loano sebagai bagian dari sejarah merupakan tempat dimana saat perang Djawa berkecamuk tempat ini mempunyai peran strategis dalam mewarnai jalannya perang. Loano yang subur memberikan sebuah jaminan ketresediaan pangan bagi pejuang Diponegoro dan di Loano pula sebuah dukungan Politik, sosial dan sumberdaya diberikan untuk lancarnya perjuangan Sang Pangeran dalam meletakkan sendi-sendi kekuatan barisan tentara, hal ini dibuktikan dengan banyaknya tokoh-tokoh dari Pejuang sang Pangeran menetap,berada dan bahkan ketika perang usai dan meninggal mereka dikebumikan disini, dapatlah disebut Raden Gagak Handoko, Tumenggung Duk Jekso, Pangeran Koconegoro, Ki Ketidrono, kerabat Surokusumo dan masih banyak lagi, semua itu merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah Loano tempo doeloe.
Diriwayatkan, Loano sebelum pecah Perang Diponegoro adalah sebuah wilayah otonom di bawah kendali Kasunanan Surakarta - hal ini konsekwensi dari perjanjian Giyanti yang membagi kerajaan Mataram menjadi 2 bagian yaitu Kasunanan Surakarta Hadiningrat berpusat di Solo- sekarang, dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, karena pembagian yang disepakati dahulu berdasarkan cacah/penduduk bukan atas dasar teritori maka yang terjadi adalah kekacauan wilayah sebab bukan tidak mungkin daerah dekat Yogyakarta justru menjadi wilayah Surakarta atau sebaliknya - dan penguasa Loano saat itu adalah Trah dari Sri Susuhunan Pakubuwono II. Dari sekian penguasa wilayah ini yang paling populer disebutkan oleh warga masyarakat Loano hingga kini adalah Raden Gagak Handoko.
Pada kisaran Tahun 1823 an, terjadilah krisis Politik di Kasultanan Yogyakarta yaitu terjadinya perebutan pengaruh antar kerabat Kerajaan. Puncak dari keadaan itu adalah Keluarnya RM Ontowiryo dari Istana dan memimpin perlawanan terhadap Sultan yang notabene adalah keponakannya sendiri- sejarah mencatat sang Sultan terlalu dipengaruhi Belanda. Perlawanan demi perlawanan terus terjadi dan ini menggerogoti hampir seluruh wilayah kasultanan hingga merembet ke wilayah Kasunanan Surakarta yang mana di awal tulisan Loano disebut masuk wilayah Kasunanan. Di daerah ini Diponegoro mendapat dukungan dari penguasa Loano. Namun karena sang pangeran adalah kerabat Kasultanan sedang penguasa Loano merupakan bawahan dari kasunanan maka untuk mewujudkan dukungan itu Raden Gagak Handoko mempunyai cara dengan mencari tempat di wilayah Loano untuk pihak Pejuang Diponegoro dan pihak Pegagakan saling bertemu, maka dipilihlah sebuah tempat di ujung barat "kota Loano" di bagian gugusan Bukit Gunung Damar. Tempat ini dipilih karena jauh dari jangkauan pengawasan tentara Kasunanan yang dibantu Belanda juga karena masih termasuk wilayah Bukit Gunung Damar yang terkenal dengan daya magisnya waktu itu.
Sejak saat itu tempat tersebut dijadikan sebagai wahana pertemuan para pejuang Diponegoro dan Prajurit Pegagakan, oleh karena pihak pejuang Diponegoro dianggap tamu oleh pihak Loano maka tempat tersebut disebut "nggon jogotamu" artinya tempat untuk menunggu/ menyambut tamu. Dan dengan seiringnya perkembangan jaman tempat di kaki Bukit Gunung Damar itu disebut sebagai Jogotamu.
( Diarsipkan Oleh Erwan Wilodilogo, 03 Maret Duaribu empatbelas )